Pembagian Sejarah Jaman Jepang


Dari Masa Ke Masa

Dari Masa Ke Masa

Pembagian zaman di Jepang tidak bisa dibagi menjadi beberapa dinasti seperti di China, karena Jepang hanya mempunyai satu dinasti. Zaman Jepang dapat dibagi menjadi beberapa zaman, yaitu:

  1. Zaman Paleolitik
  2. Zaman Jōmon (10.000 SM – 200 SM)
  3. Zaman Yayoi (200 SM – 250M)
  4. Zaman Yamato (250 M – 710M)
  5. Zaman Nara (710 M – 794M)
  6. Zaman Heian (794 M – 1185M)
  7. Zaman Kamakura (1192 M – 1333M)
  8. Zaman Muromachi (1338 M – 1568M)
  9. Zaman Azuchi-Momoyama (1568 M – 1600M)
  10. Zaman Edo (1603 M – 1867M)
  11. Zaman Meiji (1868 M – 1912M)
  12. Zaman Taishō (1912 M – 1926M)
  13. Zaman Shōwa (1926 M – 1989M)
  14. Zaman Heisei (1989 M – sekarang)

Sampai dengan kondisi Jepang yang saat ini kita kenal dengan kecanggihan teknologinya, bangsa Jepang ternyata telah melewati aliran waktu sejarah yang panjang, hingga akhirnya terbentuklah karakter mereka seperti yang dapat kita saksikan dewasa ini.

1. Zaman Paleolitik Jepang (nihon no kyū sekki jidai)

Adalah zaman yang dimulai ketika manusia mulai bertempat tinggal di Kepulauan Jepang mungkin sekitar 30.000 tahun lalu atau 100.000 tahun lalu. Berdasarkan bukti yang berupa alat-alat yang tebuat dari batu, dan diakhiri dengan dimulainya jaman Jomon di akhir zaman Pleistosen. Pada periode terdingin zaman Es ketika permukaan laut menjadi 100-120 meter lebih rendah, kepulauan Jepang mungkin beberapa kali pernah menjadi satu dengan daratan Asia. Kedalaman laut Selat Korea yang memisahkan Jepang dan Korea dan Selat Tsugaru yang memisahkan Pulau Honshu dan Pulau Hokkaido adalah sekitar 140 meter, sehingga pendapat kepulauan Jepang pernah menjadi satu dengan daratan Asia masih mengundang kontroversi berbagai ahli.

2. Zaman Jomon (jōmon jidai)

Adalah sebutan zaman prasejarah kepulauan Jepang yang dimulai dari akhir zaman Pleistosen hingga jaman Holosen, bersamaan dengan jaman batu pertengahan atau jaman Batu Baru yang ditandai dengan mulai digunakannya barang-barang tembikar. Kegiatan manusia pada zaman Jōmon dalam mencari makanan bergantung pada tempat tinggalnya. Manusia yang tinggal di daerah yang diberkahi kekayaan sumber alam mencari makan sebagai pemburu dan pengumpul jenis tanaman yang bisa dimakan. Manusia zaman Jōmon mulai mengenal kebudayaan tembikar yang bersifat artistik. Ada kecenderungan kebudayaan Jōmon lebih berkembang di Jepang bagian timur berdasarkan jumlah situs penggalian dan beragam jenis barang tembikar yang berhasil ditemukan.

3. Zaman Yayoi (yayoi jidai)

Adalah salah satu zaman dalam pembagian periode sejarah Jepang yang mengacu pada Jepang (dengan perkecualian Pulau Hokkaido) di abad ke-8 sebelum Masehi hingga abad ke-3 Masehi. Ciri khas pada barang peninggalan berupa tembikar gaya zaman Yayoi dan penguasaan teknik penanaman padi di sawah. Barang-barang peninggalan dari zaman ini pertama kali ditemukan di situs penggalian tumpukan kulit kerang di Yayoi-cho (sekarang distrik Bunkyō di Tokyo) sehingga dinamakan zaman Yayoi.
Kebudayaan zaman Yayoi berkembang dari pulau Kyushu sampai sebelah timur pulau Honshu. Sejalan dengan kemajuan dalam bidang pertanian dikenal perbedaan kelas dan perbedaan kaya miskin yang melahirkan pengelompokkan wilayah yang bisa disebut sebagai bentuk awal negara yang dikenal dengan sebutan Kuni (negara-negara kecil).Perebutan air dan tanah untuk memperluas penanaman padi di sawah menumbuhkan permukiman penduduk, wilayah terbentuk sebagai hasil perang antar desa, usaha perluasan wilayah dan penguasaan daerah menimbulkan perang antar negara-negara kecil yang meluas di seluruh kepulauan Jepang. Pada waktu itu berhasil terbentuk negara-negara kecil berdasarkan daerah seperti Kyushu bagian tara , Kibi, San-in, Kinki, Tōkai, dan Kanto. Pertempuran untuk mencari sekutu dan menyatukan wilayah kekuasaan yang terjadi berulang-ulang kali merupakan proses untuk membentuk negara Jepang zaman kuno.

4. Zaman Kofun (Kofun  jidai)

Zaman Kofun dimulai sekitar 250 M. Nama zaman ini berasal dari tradisi orang zaman itu untuk membuat gundukan makam (tumulus) yang disebut kofun. Pada zaman ini sudah terdapat negara-negara militer yang kuat dengan klan-klan berpengaruh sebagai penguasa. Salah satu di antaranya terdapat negara Yamato yang dominan, dan berpusat di Provinsi Yamato dan Provinsi Kawachi. Negara Yamato berlangsung dari abad ke-3 hingga abad ke-7, dan merupakan asal garis keturunan kekaisaran Jepang. Negara Yamato yang berkuasa atas klan-klan lain dan memperoleh lahan-lahan pertanian mempertahankan pengaruh yang kuat di Jepang bagian barat. Jepang mulai mengirimkan utusan ke Kekaisaran Cina pada abad ke-5. Dalam dokumen sejarah Tiongkok ditulis tentang negara Wa yang memiliki lima raja. Sistem pemerintahan di Wa meniru model Cina yang menerapkan sistem administrasi terpusat. Sistem kekaisaran juga mengambil model dari Cina, dan masyarakat dibagi menjadi strata berdasarkan profesi.

5. Zaman Nara (nara jidai)

adalah salah satu zaman dalam pembagian periode sejarah Jepang yang dimulai ketika kaisar wanita Genmei memindahkan ibu kota kekaisaran ke Heijō-kyō (Nara) pada tahun 710, berlangsung selama 84 tahun hingga kaisar Kanmu memindahkan ibu kota ke Heian-kyō pada tahun 794. Fujiwara Nofuhito dianggap berperan besar dalam pemindahan ibu kota ke Nara. Nara dibangun mengikuti ibu kota Tiongkok di Chang’an. Nara dirancang sebagai kota pemerintahan dengan sebagian besar penduduknya merupakan pegawai pemerintah. Sistem hukum Asuka kiyomihara dan Taiho ritsuryō yang mulai diberlakukan zaman sebelumnya dikaji kembali dan direvisi agar isinya sesuai dengan keadaan dalam negeri Jepang. Walaupun pelaksanaannya masih dalam tahap coba-coba, pada zaman ini Jepang sudah bertujuan menjadi negara hukum, sistem pemerintahan pusat dengan kekuasaan otokrasi di tangan kaisar.

6. Zaman Heian ( Heian jidai)

adalah salah satu zaman dalam pembagian periode sejarah Jepang yang berlangsung selama 390 tahun, dimulai dari tahun 794 ketika Kaisar Kanmu memindahkan ibu kota ke Heian-kyō hingga dibentuknya pemerintah Keshogunan Kamakura sekitar tahun 1185. Periode ini ditandai dengan puncak kemajuan pengaruh Tiongkok, Taoisme, dan Buddhisme di Jepang. Zaman Heian juga dianggap sebagai zaman keemasan istana kekaisaran dan seni di istana, khususnya puisi dan sastra. Meskipun secara formal kekuasaan berada di tangan kaisar, kekuasaan pemerintahan berada di tangan klan Fujiwara, sebuah klan bangsawan yang memiliki hubungan perkawinan dengan keluarga kekaisaran. Ibu dari sejumlah besar kaisar Jepang berasal dari klan Fujiwara. Dalam bahasa Jepang, Heian berarti kedamaian dan ketenangan.

7. Zaman Kamakura (kamakura jidai)

adalah salah satu pembagian periode dalam sejarah Jepang ketika pemerintahan militer (keshogunan) terletak di Sagami Kamakura, sehingga zaman ini dinamakan zaman Kamakura. Ada perbedaan pendapat tentang tahun terbentuknya keshogunan Kamakura. Pendapat yang populer mengatakan zaman Kamakura dimulai tahun 1192 ketika Minamoto no Yoritomo ditunjuk sebagai Seitaishogun dan membentuk pemerintah Kamakura. Pendapat lain mengatakan zaman Kamakura dimulai tahun 1180 ketika Minamoto no Yoritomo menyerang klan Taira.

8. Zaman Muromachi (muromachi jidai) atau zaman Keshogunan Ashikaga

adalah salah satu pembagian periode dalam sejarah Jepang ketika keshogunan Ashikaga yang juga dikenal sebagai Keshogunan Muromachi berkuasa di Jepang. Pemerintah Ashikaga berpusat di Muromachi, Kyoto sehingga disebut Keshogunan Muromachi. Pada tahun 1336, Ashikaga Takauji mendirikan Keshogunan Muromachi (Istana Utara) sebagai tandingan kaisar Godaigo dari Istana Selatan. Terpecahnya kekaisaran menjadi Istana Utara-Istana Selatan berlangsung sampai Istana Selatan ditaklukkan Istana Utara pada tahun 1392. Kedudukan kaum bushi berada di atas kedudukan kaisar setelah Istana Utara berhasil menundukkan Istana Selatan, tapi kondisi keuangan dan kondisi militer Keshogunan Ashikaga menjadi lemah akibat perang berkepanjangan. Pergolakan di dalam klan Ashikaga yang disebut Peristiwa Meiōnoseihen merupakan awal zaman Sengoku yang penuh intrik, perebutan kekuasaan, kerusuhan, dan dihapuskannya sistem tanah milik bangsawan.

9. Zaman Azuchi-Momoyama (azuchi momoyama jidai)

adalah salah satu pembagian periode dalam sejarah Jepang yang dimulai sejak Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi menjadi penguasa Jepang dan berakhir ketika Tokugawa Ieyasu berhasil mengalahkan pasukan pendukung Toyotomi Hideyori dalam Pertempuran Sekigahara tahun 1600. Zaman ini disebut juga zaman Shokuhō (織豊時代 shokuhō jidai?) yang penamaannya diambil dari aksara kanji nama keluarga Oda Nobunaga (織 untuk “Shoku”) dan aksara kanji nama keluarga Toyotomi Hideyoshi (豊 untuk “Hō”). Oda Nobunaga tinggal di Istana Azuchi (sekarang Prefektur Shiga) sedangkan Toyotomi Hideyoshi tinggal di Istana Fushimi (Kyoto) yang disebut juga sebagai Istana Momoyama sehingga zaman ini disebut zaman Azuchi-Momoyama. Pusat pemerintahan Toyotomi Hideyoshi berada di Istana Osaka sehingga ada pendapat yang mengatakan zaman kekuasaan Hideyoshi sebenarnya harus disebut sebagai zaman Osaka (大坂時代 ōsaka jidai?).

10. Zaman Edo (edo jidai)

adalah salah satu pembagian periode dalam sejarah Jepang yang dimulai sejak shogun pertama Tokugawa Ieyasu mendirikan Keshogunan Tokugawa di Edo yang berakhir dengan pemulihan kekuasaan kaisar (大政奉還 taisei hōkan?) dari tangan shogun terakhir Tokugawa Yoshinobu sekaligus mengakhiri kekuasan Keshogunan Tokugawa yang berlangsung selama 264 tahun. Zaman Edo juga disebut sebagai awal zaman modern di Jepang.

11. Zaman Meiji (Meiji jidai)

adalah salah satu nama zaman pemerintahan kaisar Jepang sewaktu Kaisar Meiji memerintah Jepang, sesudah tahun Keiō (慶応?) dan sebelum zaman zaman Taishō (大正). Ibu kota pemerintahan dipindahkan dari Kyoto ke Tokyo. Pada 3 Februari 1867, Putra Mahkota Mutsuhito yang waktu itu berusia 15 tahun naik tahta untuk menggantikan ayahnya, Kaisar Kōmei. Nama zaman semasa Kaisar Meiji disebut zaman Meiji. Restorasi Meiji yang terjadi 1868 mengakhiri kekuasaan feodal Keshogunan Tokugawa.

Kebijakan dasar pemerintah Meiji dinyatakan dalam Sumpah Tertulis Lima Pasal tahun 1868. Isinya berupa pernyataan umum pemimpin Meiji dengan maksud mendorong moral dan dukungan keuangan bagi pemerintah yang baru. Isi kelima pasal tersebut ditafsirkan berbeda-beda, namun intinya kurang lebih adalah:

  1. Pembentukan dewan secara luas di berbagai daerah, semua persoalan penting dimusyawarahkan bersama
  2. Semua kalangan, atas dan bawah, harus bersatu dalam menjalankan urusan negara.
  3. Rakyat biasa, begitu pula pejabat pusat dan militer, harus diperbolehkan untuk melakukan hal-hal yang diingini sehingga tidak mereka tidak bosan.
  4. Kebijakan lama yang buruk ditinggalkan, dan semuanya dibiarkan berdasarkan hukum alam.
  5. Pengetahuan harus dicari hingga ke seluruh dunia demi memperkuat fondasi kekuasaan kekaisaran.

Pemerintah Meiji memberi jaminan kepada kekuatan-kekuatan asing bahwa negaranya akan mematuhi perjanjian yang dibuat Keshogunan Tokugawa, dan menyatakan dirinya negaranya akan mematuhi hukum internasional. Setelah penghapusan sistem domain, daimyo secara sukarela menyerahkan tanah kepemilikan dan catatan sensus mereka. Para daimyo mendapat tugas baru sebagai gubernur. Pemerintah pusat menanggung pengeluaran daerah dan membayar gaji samurai. Sistem domain (han) diganti menjadi sistem prefektur pada 1871, dan kekuasaan berada di tangan pemerintah pusat. Pejabat dari bekas Domain Satsuma, Domain Chōshū, Domain Tosa, dan Domain Hizen ditugaskan mengisi pos-pos kementerian.

12. Zaman Taishō (Taishō jidai)

adalah salah satu nama zaman pemerintahan Kaisar Jepang sewaktu Kaisar Taishō (Yoshihito) memerintah Jepang, sesudah zaman Meiji dan sebelum zaman Shōwa. Kaisar Yoshihito tidak berada dalam kondisi kesehatan yang baik, sehingga terjadi pergeseran kekuatan politik dari negarawan senior (genrō) ke Parlemen Jepang dan partai-partai politik. Oleh karena itu, periode ini juga disebut masa gerakan liberal yang disebut demokrasi Taishō. Istilah demokrasi Taishō dipakai untuk membedakan periode ini dari kekacauan zaman Meiji dan paruh pertama zaman Shōwa ketika Jepang jatuh ke dalam militerisme.

13. Zaman Shōwa (Shōwa jidai)

adalah salah satu nama zaman di Jepang pada abad ke-20. Zaman Shōwa berlangsung pada masa pemerintahan Kaisar Shōwa (Hirohito), sejak Kaisar Hirohito naik tahta pada 25 Desember 1926 hingga wafat pada 7 Januari 1989. Tahun Shōwa berlangsung hingga tahun 64 Shōwa, dan merupakan masa pemerintahan terpanjang dari seorang kaisar di Jepang (62 tahun 2 minggu), walaupun tahun terakhir zaman Shōwa (tahun 64 Shōwa) hanya berlangsung selama 7 hari. Selama zaman Shōwa, Jepang memasuki periode totalitarianisme politik, ultranasionalisme, dan fasisme yang berpuncak pada invasi ke Cina pada tahun 1937. Peristiwa tersebut merupakan bagian dari masa konflik dan kekacauan di seluruh dunia, seperti halnya Depresi Besar dan Perang Dunia II. Kapitulasi Jepang membawa Jepang ke arah perubahan radikal, untuk pertama kalinya dalam sejarah bangsa Jepang, Jepang diduduki oleh kekuatan asing dan berlangsung selama 7 tahun. Pendudukan Sekutu membawa reformasi dalam bidang politik, termasuk mengubah Jepang menjadi negara demokrasi berdasarkan monarki konstitusional. Setelah ditandatanganinya Perjanjian San Francisco pada tahun 1952, Jepang kembali menjadi negara berdaulat. Dari tahun 1960-an hingga 1980-an, Jepang mengalami masa keajaiban ekonomi pascaperang. Dekade 1980-an merupakan masa keemasan ekspor otomotif dan barang elektronik ke Eropa dan Amerika Serikat sehingga terjadi surplus neraca perdagangan yang mengakibatkan konflik perdagangan. Setelah Perjanjian Plaza 1985, dolar AS mengalami depresiasi terhadap yen. Pada Februari 1987, tingkat diskonto resmi diturunkan agar produk manufaktur Jepang bisa kembali kompetitif setelah volume ekspor merosot akibat menguatnya yen. Akibatnya, terjadi surplus likuiditas dan penciptaan uang dalam jumlah besar. Spekulasi menyebabkan harga saham dan realestat terus meningkat, dan berakibat pada penggelembungan harga aset di Jepang.

14. Zaman Heisei (Heisei Jidai)

Heisei sebagai nama zaman yang baru dimulai 8 Januari 1989 setelah Kaisar Akihito naik tahta menggantikan Kaisar Hirohito yang mangkat pada tanggal 7 Januari 1989. Tahun 1989 juga disebut tahun Heisei 1 (平成元年 Heisei gannen?, tahun awal zaman Heisei). Di siang hari setelah Kaisar Hirohito mangkat, sebuah dewan yang terdiri dari delapan orang ahli dibentuk untuk memutuskan nama zaman berikutnya. Pemerintah mengajukan dan meminta pertimbangan atas 3 buah nama zaman yang baru ke hadapan anggota dewan, dan Ketua/Wakil Ketua Majelis Rendah Jepang serta Majelis Tinggi Jepang. Ketiga nama zaman yang diusulkan adalah Heisei (平成?), Shūbun (修文?), dan Seika (正化?). Sejak sebelum diajukan, Shūbun dan Seika kemungkinan besar tidak akan digunakan sebagai nama zaman yang baru, karena keduanya dimulai dengan huruf “S”. Sesudah zaman Shōwa perlu dipilih nama zaman dengan huruf awal yang berbeda, karena penulisan angka tahun pada zaman Shōwa sudah dimulai dengan huruf “S”, misalnya S63 berarti tahun 1988.

 

Iklan

About Masbro Yayan

jalan-jalan, bagi tips, ulasan bebas, kilas jepang

Posted on Desember 25, 2009, in Pojok Jepang. Bookmark the permalink. 7 Komentar.

Tinggalkan Balasan sob..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: