Lamalera, Menelusur Jejak Sang Pemburu Paus


Bertarung dengan paus

Bertarung dengan paus

Suatu ketika dipantai, ketika mendengar suara gitar yang mengalun dikejauhan, pikiran sa teringat pada suatu tempat, Lamalera. Yap Lamalera, sebuah tempat sunyi di Indonesia yang masih menyimpan banyak sekali keindahan dunia yang masih alami, alam, budaya dan adat manusianya. Disana, masyarakat masih sangat jauh dari modernisasi, globalisasi dan masih menjunjung tinggi toleransi antar manusia. Disanalah sebuah tempat di Gugusan Nusa Tenggara.

Lokasi :

Lamalera adalah desa kecil yang secara administratif berada di Kabupaten Lembata (Pulau Lembata) yang berada di gugusan Nusa Tenggara Timur. Pulau Lembata sendiri terletak 190 kilometer di sebelah utara Kupang, Ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kota terbesar di Pulau Lembata ialah Lewoleba di bagian selatan pulau yang merupakan ibu kota Kabupaten Lembata.

Untuk menuju Lewoleba, Ibu Kota Kabupaten Lembata, Anda perlu menyeberangi lautan. Penerbangan dan perahu menjadi pilihan pasti. Bandar Udara Wunopito di Lembata sudah sangat baik kondisinya untuk sebuah kabupaten yang baru berkembang. Landasannya membentang sepanjang 1.200 meter dan rencananya akan diperpanjang menjadi 1.500 meter agar pesawat lebih besar dapat singgah.

Saat ini penerbangan yang intensif melayani bandara ini ialah Trans Nusa dengan Foker-50-nya. Penerbangan ini menghubungkan Lembata dengan Kupang, Ibukota Provinsi Nusatenggara Timur di Pulau Timor 4 kali seminggu. Bandar Udara El Tari di Kupang sendiri sudah banyak dilayani berbagai penerbangan yang menghubungkan kota-kota besar di Indonesia. Bila Anda terbang dari Jakarta, Bali, atau Makassar, mendarat di Kupang tidaklah sulit, walau jumlah penerbangan terkadang masih belum sebanyak bandara lain, sehingga terkadang harus menanti tempat duduk kosong.

Lokasi Lamalera, di Gugusan Nusa Tenggara

Lokasi Lamalera, di Gugusan Nusa Tenggara

Untuk perjalanan laut, dermaga Laut Lewoleba melayani penumpang yang hendak menuju Larantuka. Untuk rute ini akhir dari penerbangan sebelum dilanjutkan perjalanan laut adalah kota Maumere. Dari Maumere lalu menuju Larantuka menggunakan Bus. Dari Larantuka Flores, kapal laut berlayar setiap hari ke Lewoleba atau ada pula yang berlayar langsung ke Lamalera seminggu sekali.

Sebuah Cerita :

Ketika musim berburu tiba, seorang tetua adat di masyarakat Lamalera, Lembata, selalu menggelar upacara pemanggilan. Mulutnya komat-kamit, melambungkan seruan agar kawanan ikan paus mendatangi perairannya. Orang Lamalera percaya panggilan ini didengar.

Sejak Mei sampai September, puluhan paus selalu merangsek mendekati pantai. Orang-orang Lamalera segera mengepungnya dengan sejumlah perahu, lalu menikamnya dengan mata tombak bertali. Terkadang buruan bisa dilumpuhkan, tapi kerap malah mengamuk dan menyeret para nelayan bahkan sampai ke perairan Australia. Bagi mereka, menikam paus sudah menjadi tradisi sekaligus seni.

Baleo…, baleo…, baleo...!” Teriakan tanda berkumpul ini selalu meletus di tepi perairan Sawu. Orang-orang yang hilir-mudik di pantai menoleh serempak ke tengah lautan. Anak-anak yang bermain berlarian di atas pasir basah pun terpaku sejenak. Di lautan nan biru, tampak semburan air ke udara, pertanda kawanan ikan paus telah datang.

Seruan itu dipekikkan terus, sambung-menyambung hingga bergema di kampung masyarakat Lamalera. Hampir semua kaum laki-laki segera menghentikan segala kesibukan. Mereka buru-buru menuju “pledang”, perahu pemburu paus, yang diparkir di pantai. Dengan sigap sekitar 12 lelaki tampak mendorong pledang ke laut. Tanpa menunggu rombongan lain yang masih mempersiapkan diri, mereka meluncur ke tengah sambil mengembangkan layar. Perburuan pun dimulai.

Setelah dekat dengan lokasi mamalia laut itu, mereka menggulung layar. Kayuhan dayung pun dihentikan. Suasana menjadi hening. Mereka membiarkan pledang masing-masing bergoyang-goyang dipermainkan ombak. Mata lama fa, sang juru tikam, pada tiap perahu tampak awas. Menunggu kesempatan untuk menikamkan tombak yang mereka bawa agar Sang Paus dapat memberikan dirinya untuk menghidupi lelaki-lelaki ini dan keluarga mereka, cukup untuk bertahan hidup.

Begitulah cara orang Lamalera berburu paus. Kegiatan ini dilakukan setiap saat ketika ada tanda-tanda kawanan mamalia laut itu merangsek ke dekat pantai. Tak ada yang tahu persis sejak kapan tradisi ini dimulai. Sesepuh Lamalera, Petrus Blikololong, menuturkan, “Sebelum gereja katholik berdiri pada 1820, nenek moyang kami sudah berburu paus”. ha itu juga diamini dan didokumentasikan oleh seorang Peneliti Universitas Oxford, R.H. Barnes, pada sebuah buku yang ditulisnya berjudul “Sea Hunters of Indonesia: Fisher and Weavers of Lamalera” tahun1996. disebutkan disana bahwa asal kata Lamalera berasal dari bahasa lokal yang berarti cakram matahari.

Bagi masyarakat Lamalera, berburu paus, penduduk setempat menyebut ikan ini dengan nama “koteklama”, tak sekadar sebagai sumber penghidupan. Orang Lamalera menganggap berburu paus sebagai tradisi, sebuah perhelatan yang dinikmati orang sekampung.

Ikan Paus Sperma adalah buruan satu-satunya yang dijalankan masyarakat Lamalera Atas ataupun Lamalera Bawah. Ikan paus biru (Balaenoptera musculus) pun sering berlalu di hadapan mereka sebagai mamalia air terbesar yang ada (cetacean). Namun paus itu tak pernah diburu, karena selain untuk menjaga kelestarian satwa laut besar ini, selain itu tradisi menyebutkan bahwa Lamalera dan Lembata pada umumnya pernah diselamatkan paus biru dulu kala.

Secara tradisi, ikan paus yang didapat dikonsumsi untuk masyarakat desa dan tidak melebihi dari kebutuhan hidup secara keseluruhan secara sosial. Terkadang jumlah paus yang ditangkap berfluktuasi sesuai ketersediaan dan keperluan masyarakatnya. Kadang setahun hanya ada 4 paus dan kadang dapat mencapai 56 paus, jumlah tertinggi yang diraih pada tahun 1969. Seorang ahli biologi kelautan menyebutkan bahwa fluktuasi tergantung dari pola meteorologist dan pola populasi paus tersebut.

Sepertinya sangat tidak wajar bila nelayan masyarakat desa Lamalera lebih memilih berburu ikan-ikan besar yang sebenarnya adalah termasuk ke dalam jenis-jenis ‘Mamalia Laut’ (Cetacean) yang besar dan sangat beresiko tinggi bila dibandingkan menangkap ikan lainnya, tapi itulah kenyataan yang terjadi dengan kondisi alam, topografi, serta bekal kemampuan yang digariskan secara turun menurun oleh nenek moyang mereka. Sehingga membuat mereka terbisa dan pasrah akan bahaya yang selalu dihadapi untuk menyambung hidup dengan berburu paus. paus yang mereka buru hanya bertujuan untuk bertahan hidup bukan sebuah komoditas dagang untuk diambil keuntungannya, hal ini juga yang membuat kebiasaan masyrakat Lamalera masih bertahan sampai saat ini dan tidak dilarang.

Semua bagian paus adalah penting dan terpakai semua antara lain adalah daging, kulit, lemak, darah, dan tulang. Ketika ada satu ekor paus ditikam maka semua masyarakat Lamalera akan mendapatkan jatah semua, walaupun tidak ikut kelaut, karena bisa dibarter dengan ikan lain atau hasil bumi.

Barter dan Toleransi :
Mama Mama Lamalera sedang Barter Ikan dengan Pisang

Mama Mama Lamalera sedang Barter Ikan dengan Pisang

Ketika jauh sekali republik ini memilik rupiah sebagai mata uang untuk bertransaksi, masyarakat Lamalera masih memilih bertransaksi dengan cara barter. Penetan/Pnetan adalah aktifitas jual beli dengan mempertahankan jual beli sistem barter.
Di pasar barter Labala dan wulandoni inilah kita akan menemukan realita interaksi sosial ata kiwan (orang gunung) yang mayoritas Kristiani dan ata watan (orang pantai) yang mayoritas Muslim, melakukan transaksi tukar menukar ikan dengan beras, buah alpukat, tomat dan kebutuhan pokok lainnya.

Tradisi dan budaya penetan/pnetan inilah menjadi pagar lestarinya semangat toleransi umat bergama. Betapa tidak, dalam budaya penetan/pnetan, masyarakat Lamalera diharuskan bergaul dan berbaur dengan semua orang dari berbagai kalangan, baik mereka  yang muslim maupun meraka yang kristen atau yang memiliki keyakinan lainnya. Tradisi dan budaya penetan/pnetan merupakan tradisi luhur yang diwariskan oleh nenek moyang. Kerukunan yang berawal dari aktifitas niaga secara tradisional ini kemudian menjalar keberbagaai aktifitas sosial lainnya, termasuk aktifitas keagaamaan masyarakat.

Iklan

About Masbro Yayan

jalan-jalan, bagi tips, ulasan bebas, kilas jepang

Posted on September 9, 2013, in Catatan Jalanan. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Betul emang, disana masih mengijinkan orang membunuh Ikan Paus? bukanya itu ikan dilindungi dengan badan dunia environmental heritage?

  2. seru yah bila berwisata ke Kabupaten Lembata (Pulau Lembata) dan masih ada sistem Barter dan Toleransi :

Tinggalkan Balasan sob..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: